Sabtu, 14 Februari 2009

Tips sembunyi dari sholat jama’ah di masjid:

• Kalo ada kasur ngumpet di kolong kasur
• Buat santriwati pura-pura ’M’ (padahal kan emang ’M’..ales..)
• Ngumpet di kelas
• Bareng sama kaka kelas yang punya kekebalan hukum
• Pura-pura ditengokin saudara or ortu
• Pas lagi adzan langsung mandi..yang lama

Tips ngga ketauan ngerokok

• Dimasukin ke dalem spidol warna-warni sbg pengganti isi
• Buat kaligrafi berbahan rokok untuk kamuflase
• Jangan sekali-kali ngerokok di kamar mandi..baunya susah ilang
• Ngerokok di taman sambil pura-pura baca koran, kalo ad yg dateng makan permen deh

Tips belajar dengan SKS (Sistem Kebut Semalam)

• Minta kisi-kisi untuk ujian dari asatidz/ah
• Cari soal ujian tahun kemarin dengan mata pelajaran dan guru yang sama
• Fotokopi catetan dari temen2 yang rajin nyatet (terurama yang udah distabilo or garis bawah)
• Tidur setelah ujian buat persiapan begadang ujian besok
• Tetep dan wajib Belajar pas temen-temen pada molor
• Pas hari H baca bahan yang penting sebelum pengawas ngebagiin soal ujian

manjat

Hasil nyantri selama 6 tahun mau ngga mau menorehkan sedikit cerita...
Di pondokku dulu yang namanya santriwati ngga boleh naik pohon..tapi namanya bukan peraturan kalo ngga buat dilanggar..ya ngga?!
Dipinggir pager yang dibuat pondok ada pohon seri (orang jawa bilangnya talok, orang sok bilangnya cherry) yang ngga terlalu tinggi..
Secara gwe dan temen-temen yang kreatif ngerasa rimbunnya tu pohon pas banget ngelindungin kita dari mata awas asatidzah dan pengurus, so kita ngerasa asyik banget di atas sana..makanin buahnya, tidur-tiduran sampe ngedengerin walkman (yang ini juga dilarang loh)..
Eh lagi enak-enaknya merem melek..tau-tau kita ditimpuk batu..sama segerombolan santriwan yang lagi lewat selain sakit karena diperlakukan kaya udah zina (kan hampir kaya dirajam..ya ngga?) kita juga dibikin malu karena setelah itu ada yang nyempet-nyempetin ngasih julukan binatang yang katanya spesiesnya deket ama kita para manusia..gimana ngga ngeselin tuh!!!

Kamis, 29 Januari 2009

tips hakekat belajar-mengajar

Oto-kritik atas orientasi pembelajaran )
oleh : Khoirul Anam Rissah *

Gonjang ganjig dunia pendidikan kita selalu diwarnai dengan carut marutnya sistem, mahalnya biaya, serta minimnya kualitas out-put yang dihasilkan. Terakhir begitu keras penolakn menyangkut UAN karena dinilai mengebiri otoritas institusi internal, disamping membiaskan obyektivitas penilaian terhadap peserta didik. Lalu bagaimanakah seharusnya pendidikan itu diselenggarakan?

Sesungguhnya Peradaban manusia itu terjadi dengan ditandai adanya keterkaitan dan ketersinggungan satu sama lain, sehingga masing-masing meniscayakan perlunya membentuk sebuah komonitas sosial. Dalam ranah ini kemudian mereka terpanggil untuk dapat mengembangakan diri dan potensinya guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer dan sekundernya. Maka terjadilah proses transformasi kepentingan.

Kenyataan membuktikan, bahwa semua itu tidak dapat meninggalkan dan menafikan begitu saja modal dasar pengetahuan dan pengalaman. Meski disadari bahwa potensi itu sesungguhnya telah dimiliki dan terbawa secara alami. Maka diniscayakanlah perlunya mengadopsi dan memanfaatkan potensi itu dalam bentuk membaca dan membaca. Dan serasa pas kiranya, ketika wahyu pertama kali diturunkan adalah perintah membaca. Sebab dari sini akan tumbuh kesadaran untuk memanusiakan dirinya dan menuhankan Allah penciptanya. Maka tak ayal kalau kemudian tergerak olehnya untuk senantiasa memfungsikan akal pikiran yang telah dikaruniakan kepadanya dengan jalan menganalisa ayat-ayat-Nya yang tertulis dan gejala alam yang terbaca (macro cosmos).

Namun sejauh mana ia telah mengoptimalkan? Di sinilah perlunya mengembangkan diri secara interaktif atau dialektis agar proses pemberdayaan diri (akal) menemukan kesejatianya. Dan dari sini pula lahir pemikiran dan konsep pendidikan yang menempatkan anak didik tidak saja menjadi obyek pendidikan, melainkan juga memandangnya sebagai subyek didik, karena hakekat kependidikan adalah studi tentang proses yang bersifat progresif menuju ke arah kemampuan optimal.

Selanjutnya dalam penerapannya diharapkan masing-masing menumbuhkan kesadarannya untuk senantiasa memotivasi diri dengan berdasarkan pendekatan motivasi yang terdiri dari tiga aspek. Yaitu, motivasi theo genetic (dorongan yang berdasarkan pada nilai-nilai agama) motivasi sosio genetic, yakni dorongan yang berdasarkan nilai-nilai sosial, dan motivasi bio genetic yaitu dorongan yang bersifat jasmaniyah. Diyakini manakala ketiga aspek motivasi itu berjalan secara simultan (bersama) akan menjadi pendorong dan daya pacu hidup yang dahsyat sehingga tidak akan ada hidup tanpa cipta dan karsa. Bukankah Al-Hayatu Ma bihi al Hissu wa al Harokah?

Kembali tentang fitrah insaniah, sesungguhnya dalam struktur jasmaniah dan ruhaniah manusia telah dicukupkan dengan memiliki kecenderungan berkembang (potensialitas/disposisi) yaitu kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berkembang. Namun semua itu akan sia-sia adanya manakala tidak ada pendayagunaan yang tepat, aktif dan terencana. Sebab di sisi lain manusia juga memiliki relativitas penuh, seperti diisyarahkan, “Kemudian Allah melengkainya dengan perangkat taqwa dan fujur.” (QS. al-Lail). Tidak berlebihan jika Islam sebagai agama samawi hadir dengan memberikan petunjuk dan dorongan ke arah pencapaian hakikat dan makna hidup yang benar melalui proses penalaran dan pemaknaan terhadap segala yang dialami dan menimpa manusia hidup. Al islamu yakhuddu ‘alal musyahadati wat tafkiri wat taamuli lilwusuli ilal imanis shohih. (Islam mendorong aktif, meneliti, menganalisa dan merenung kearah Iman yang benar.) (Prof. Dr. M. Fadhil Al Jamali, Nahwa Tarbiyatin Mukminatin, hal.27).

Sudah seharusnya masing-masing individu yang merupakan bagian dari suatu sistem kehidupan untuk memulai sedari sekarang dari lingkup internalnya masing-masing untuk selanjutnya mewarnai lingkungan sekitarnya. Dan cara yang terbaik adalah dengan menempatkan masing-masing individu sebagai bagian dari suatu permasalahan yang sedang berlangsung, sambil diharapkan melakukan upaya-upaya yang bersifat kreatif dan inovatif. Sebab masing-masing pasti akan menghadapi problemnya sendiri-sendiri yang tentunya tidak sama dengan yang dihadapi saat ini. Allimu auladakum ghoiro ma ullimtum fainnahum khuliku lizamanin ghoiro zamanikum. (Persiapkanlah generasi muda dengan hal-hal yang prospektif dan relevan dengan masa depanya nanti). (maqolah Sayyidina Ali bin Abu Tholib).

Islam sebagai agama universal tidak mengenal dikotomi-dikotomi keilmuan. Dalam pandangannya tidak dibedakan antara yang semata-mata agama (relegius instruction) maupun ilmu-ilmu eksak lainya (sains technology), selama ilmu itu diarahkan untuk Khosy-yah kepada Allah. Nyatanya, pemikir besar Islam tempo dulu (abad 8 sampai 14) seperti Al Ghozali, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Kholdun, Ar Rozi dan lain-lain tercatat pernah mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan tak kurang dari 60 jenis sains dasar, sebelum akhirnya ilmu-ilmu itu berganti pemilik dan diklaim sebagai produk barat.

Jujur harus dikatakan bahwa proses pembelajaran dan pembentukan diri akan menghasilkan suatu manfaat yang besar yang dapat membedakan manusia dari makhluk lainnya. Terlebih Tuhan telah memberikan kemampuan rasional yang dahsyat (intlektual) kepada makhluk manusia ini. Namun mesti disadari -sekali lagi- hal itu baru akan berfungsi aktual jika dikembangkan melalui proses belajar-mengajar yang proporsional dengan bimbingan wahyu Tuhan (ruhaniyah relegius). Sebab rasio manusia bukan nomor satu dalam proses tersebut melainkan nomor dua setelah petunjuk Tuhan (Dia yang mengajar manusia hal yang tidak diketahui sebelumnya. QS. Al Alaq). Di sisi lain juga harus meniscayakan cara-cara pembelajaran yang penuh kelemah-lembutan, kasih sayang, kedekatan dan sikap-sikap yang simpatik, karena faktor sosio-geografis juga berperan menentukan. Perhatikan nasehat Nabi: Yassiru Wa la Tuassyiru Bassyiru Wa la Tunaffiru (Permudahlah dan jangan mempersulit. serta gembirakan mereka dan jangan dibuat lari. Juga sabdanya: Inna Allaha yuhibbu al- Rifqo fi al-amri kullihi wa innama yarhamu Allahu min ibadihi al ruhama’a. (Allah menyukai kelemah-lembutan dan kasih saying terhadap hal yang terencana dan sistematis dalam setiap masalah dan rahamat Allah bersama mereka. HR. Bukhori).

Namun apalah arti sebuah keunggulan keilmuan jika hanya berhenti pada tataran formalitas dan kebanggaan tanpa makna aplikatif yang factual. Bukankah, Inama yutlabu al-ilmu li yu’mala bihi/ ilmu dicari untuk dimengerti dan dihayati. Ibarat menanam ia tidak pernah memetik dan ibarat menabur ia tidak pernah menuai. Demikianlah jika sebuah ilmu tesia-sia. Diingatkan, Ta’allamu ma syi’tum in ta’allamu fa lan yu’jirokum Allahu hatta ta’malu/ belajar dan terus belajarlah namun juga harus berorientasi amaliah. Jika demikian pantas berharap derajat tertinggi disisi-Nya.


Kepala Madrasah
Aliyah ALFalahiyah PP. Langitan

diambil dari: http://langitan.net/?p=305

Ketika Usia Kita Makin Dewasa


Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz
قال رب أوزعني أن أشكر نعمتك التي أنعمت علي وعلى والدي وأن أعمل صالحا ترضه وأصلح لي في ذريتي إني تبت إليك وإني من المسلمين (الأ حقاف:15)

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, serta untuk mengerjakan amal sholeh yang Engaku ridhoi, berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak-cucuku. Sungguh aku bertobat kepada-Mu, dan sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri.” al-Ahqaf (QS 46:15)

Ayat di atas adalah do’a kesadaran akan hakikat hidup yang diajarkan Allah kepada manusia bila mencapai umur 40-an tahun.

Inilah do’a sarat makna yang penuh keterbukaan dan kesadaran akan peran masa lalu (orang tua), masa kini (diri kita sendiri), dan harapan masa depan (anak-cucu). Inilah do’a keselamatan setelah menjalani hidup hingga cukup bekal pengalaman serta berkesempatan untuk menata ulang setelah melihat tantangan proyeksi dirinya di masa depan. Inilah do’a penuh permohonan, penuh kesyukuran, dan penuh pertobatan yang perlu dilantunkan secara khusyuk, intim, dan sepenuh jiwa oleh siapa pun yang punya kesadaran akan umur, posisi, peran, peluang, serta hakikat kehidupannya.

Sungguh ketika seseorang menapaki usia yang ke-40 telah sampailah ia pada fase kearifan hidup. Puncak fase fisik sudah dilampauinya, simpang jalan kehidupan sudah diketahuinya, derita dan bahagia sudah dialaminya, serta jalur, rambu, dan lapis-lapis kehidupan sudah transparan bagi mata batinnya. Pada usia ini, seseorang sudah bisa mengukur secara tepat kekuatan dan kelemahan dirinya, tinggallah kemudian mana pilihan jalan yang akan diteruskanya. Persoalan kehidupan sudah semakin kelihatan berat dan bukan lagi fase fisik, bukan lagi fase coba-coba, melainkan fase kearifan hidup.

Ahli tafsir ada yang menyebutkan bahwa do’a seperti pada ayat di atas diucapkan oleh Abu Bakar As-Shidiq ra ketika kedua orangtuanya menyatakan masuk Islam. Dan, do’a itu masih dilantunkannya setiap hari hingga seluruh anggota keluarga Abu Bakar yang lain masuk Islam. Sedangkan oleh Talhah bin Masyraf kepada Abu Ma’syar ketika dia mengadukan kenakalan anaknya agar anaknya menjadi orang-orang sholeh dan sholehah.

Dua kata kunci pada do’a ini adalah ‘syukur’ dan ‘taubat’. Hakikat syukur adalah penegasan pengakuan diri akan nikmat yang telah diterimanya serta ungkapan rasa terima kasih kepada Allah atas segala kebaikan-Nya. Sementara inti tobat adalah saling ‘berbuat kebaikan’ antara manusia dengan Allah. Dimulai dari manusia yang ‘berbuat kebaikan’ dengan penyesalan kemudian dibalas oleh Allah ‘berbuat kebaikan’ dengan pengampunan dan pemberian rahmat-Nya serta manusia bertobat lantas Allah mengampuninya. Inilah hubungan mesra dan bermakna hakiki antara mahluk dan kholik.

Di zaman yang serba mengkhawatirkan seperti sekarang ini, ketika tantangan dan godaan hidup tidak lagi ringan, sudah selayaknya kita lakukan ikhtiar batin dengan berdo’a dan munajat selain ikhtiar lahir dengan fisik dan pikiran.

Insya Allah dengan laku syukur dan laku taubat, seluruh keluarga kita bisa selamat meniti jalan kehidupan, menapak duniawi sehingga bisa mencapai khusunul khotimah. Amin.

Pada akhirnya, mari bersama kita renungkan perjalanan kita di persinggahan ini. Hari berganti hari. Berganti hari, berarti kian dekat pada saat akhir hidup kita. Di dunia ini kita hanya mampir. Bukankah sudah banyak orang yang hidup sebelum kita, yang kini mereka kembali ke asal, menjadi tulang belulang.

Di depan kita, sudah banyak generasi muda yang kini hidup untuk menggantikan kita. Lalu kita mau ke mana, mau ke mana, kita pasti mati, mati adalah tempat mutasi kita yang terakhir. Kita pasti akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan. Sebanyak apa pun harta yang kita miliki tak akan bisa menolak kematian kita. Sehebat apa pun kekuasaan yang kita genggam, tak akan bisa menghalau kematian walau satu detik, walau kita kuat dan perkasa.

Oleh: Ustadz Shahid Tajuddin

diambil dari: http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=13&Itemid=55

masa yang aneh

menurutmu aneh ngga seh..
waktu di pondok..
kita ngga boleh berkomunikasi dengan cara apapun dengan santri yang lawan jenis
tapi boleh dengan asatidz/ah...tukang bersih-bersih..satpam..pegawai..tukang becak
menurutmu aneh ngga seh..
ketika udah keluar dari pondok..
kita jadi bergaul bebas karena dulu ngga boleh..
atau jadi anak cupu yang berani duduk di pojokan dan CUMI (Cuma Miskol)
menurutmu aneh ngga seh..
waktu di pondok..
kita wajib jama'ah di masjid biar dapet 27 drajat..
tapi begitu adzan dzuhur terdengar, kita cuma berhenti sebentar mendengar adzan dan masih melanjutkan pelajaran..
menurutmu aneh ngga sih..
ketika udah keluar dari pondok..
kita menunda sholat dzuhur sampai akhir waktu karena pekerjaan yang belon kelar takut diomelin bos